Wednesday, 20 April 2016

Teh Tebu di Stasiun

Stasiun Bandung di sore hari itu tidak berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Calon penumpang kereta api berlalu-lalang dengan barang bawaannya. Para pedagang asongan pun tak mau ketinggalan berpartisipasi dalam keramaian itu dengan menawarkan snack, minuman, maupun rokok. Keramaian itu dilengkapi dengan suara berisik sirine kereta api yang telah siap memuat lebih banyak penumpang.
         
Di antara beberapa ratus jiwa yang berbagi oksigen di stasiun, aku adalah salah satunya. Aku dan ransel besarku akan menempuh perjalanan ke Yogyakarta untuk mengunjungi Nenek sekaligus mengisi libur kuliah. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mengistirahatkan badanku yang lelah akibat banyaknya kegiatan kuliah yang aku ikuti.

Muslimah di Balik Kardus

Ada secercah kedamaian yang tak dapat aku uraikan ketika aku menatap mereka. Mereka memakai mahkota bagaikan seorang ratu yang akan menahtai kerajaan surga. Mereka berjalan dengan anggun dan tidak menampakan diri dengan berlebihan. Kepala mereka tertunduk menatap tanah Allah, menghindari tatapan fitnah yang rawan menerkam mereka. Allah mendekap mereka. Aku iri. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka?

            Gadis itu mengeluarkan tiga lembar uang seribuan dari saku celananya. Senyum tipisnya tersungging. Inilah hasil kerja keras yang dia lalui seharian dengan keringatnya sendiri. Kemudian, dia merebahkan dirinya di atas lembaran kertas koran lusuh yang terhampar. Matanya mengagumi keindahan cahaya bulan purnama yang sedang menampakan dirinya di antara ribuan bintang yang pudar karena cahaya lampu dan polusi. Dengan ikhlas, dihirupnya udara malam yang telah tercemar bau sampah.

            Aku masih diberi hidup. Aku mensyukurinya.

            Matanya tertutup perlahan. Ruhnya terbawa ke alam mimpi yang lebih indah.

***