Wednesday, 20 April 2016

C*NT*

Kembali, dia merasakan sesuatu yang aneh menggerayangi hatinya. Itu membuatnya terpanggil untuk duduk berhadapan dengan meja tulisnya. Padahal malam sudah memanggilnya untuk berselimut nyaman di atas tempat tidur. Tetapi perasaan aneh itu memenangkan duel dengan rasa kantuknya. 

Selembar kertas binder bergambar hati terpampang di hadapannya, siap untuk ditulis. 

“Putri, apakah besok adalah waktu yang tepat buat mengungkapkan perasaanku?” dia berbicara sendiri sambil terus memandang kertas kosong di depannya. 

Percuma saja dia berkata begitu. Tak ada yang menjawab. Mungkin cicak dan nyamuk yang berhadir di kamarnya waktu itu lebih memilih untuk bermain bersama daripada mendengarkannya. Sedangkan di sekitarnya hanya ada benda-benda mati. 

Selembar Tiket Menuju Sang Idola



               
“AAAAAAAAAAAAK!!”
                
Suara teriakan gadis itu seketika langsung menarik perhatian seisi kelas 11 IPA 1 yang tengah sibuk mengisi waktu istirahat mereka masing-masing. Sumbernya tak lain berasal dari Lia. Mata sipitnya terbelalak menatap layar dari telepon pintarnya. Senyum lebar tersungging dengan jelas dari bibirnya. 
                
Olin, yang duduk tepat di sampingnya, masih terlihat sedikit syok karena teriakan tersebut. Kemudian dia bertanya, “Ada apa, sih, Li? Kamu sudah ngagetin seisi kelas, lho!”

Dengan antusias, Lia menjawab, “EXO, Lin. EXO! Mereka bakalan konser di Indonesia!!”
                
Seketika, kpopers kelas 11 IPA 1 yang mendengar hal itu langsung mengerumuni Lia untuk mengkonfirmasi apa yang baru saja mereka dengar. Lia dengan bangga memperlihatkan isi berita sebuah situs online yang berhasil membuatnya menjadi perhatian anak kelas. Sementara Olin hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
                
“Lin, pokoknya aku harus nonton! Aku sudah lama banget menunggu kesempatan ini! Duuuh nggak sabar, deh, ketemu sama Baekhyun oppa! Aaaaak!” Lia berceloteh lagi dengan hebohnya.

Duh, beginilah kalau kpopers udah cinta banget sama idolanya!

Dua Muka

Muka pertama

Tak ada yang dapat mengalihkanku dari layar laptop yang aku tatap, kecuali sebuah sapaan canggung dari suara asing.

"Hai, Sandrina."

Tahu namaku dipanggil, aku menoleh ke asal suara. Seorang lelaki berkacamata dengan rambut acak-acakan sudah duduk di sampingku. Mungkin sudah lama. Tetapi tak aku pedulikan sedari tadi.

"Kamu... kamu sudah ngerjain tugas fisika, nggak?" lanjutnya.

Aku kembali menoleh ke layar laptopku, melanjutkan pekerjaanku, dan menjawab, "Belum. Kenapa emang?"

Berbeda

Aku sedang mengerjakan sebuah soal termodinamika dari dosen Fisikaku ketika tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di pikiranku. Bayangan itu mampu mengalihkan fokusku dari belajar. Mungkin aku belum berdoa sebelumnya sehingga setan dengan mudah menggodaku untuk memikirkan hal lain selain hukum-hukum termodinamika.

Mataku teralihkan ke layar HP yang terletak tepat di samping peralatan tulisku.

"I wonder what she is doing right now..." gumamku.

Dalam hitungan detik, HP-ku sudah tersambung dengan dunia maya. Aku langsung browsing ke beberapa sosial media seperti Facebook, Twitter, Path, dan Tumblr. Tidak lain hanya untuk mengunjungi sebuah akun yang dimiliki oleh pemilik yang sama: seorang mahasiswi Teknik Mesin bernama Miftarini Mustikasari.

Uti, begitu aku memanggilnya. Dia tidak suka dengan panggilan itu. Katanya terlalu kekanak-kanakan. Dia lebih ingin dipanggil Rini, seperti teman-teman lainnya memanggilnya. Tetapi aku bersikeras dengan nama panggilan itu sampai akhirnya dia menerimanya. Sehingga ketika ada orang yang memanggilnya Uti, it must be me!

Di Bawah Langit Berpolusi Cahaya

Di bawah langit berpolusi cahaya, kita mengucap janji temu.

Kau tahu, di kota ini ada berjuta penduduk yang berlalu lalang di jalan dengan problematika kehidupannya masing-masing. Kebisingan bunyi kendaraan pun tak terelakan. Kota ini tak pernah mati, kata orang-orang. Namun, kau tahu sebuah tempat yang nyaman untukku. Tempat yang tepat untuk menyendiri. Karena kau tahu bahwa aku senang berkencan dengan kesendirianku.

“Jika “sendiri” itu hadir dalam sosok manusia, mungkin kau akan menikahinya.” candamu dalam sebuah pesan singkat yang terkirim untukku.

Di bawah langit berpolusi cahaya, aku berjalan gugup ke tempat yang kau janjikan.

Kau tahu, selama ini sebagian percakapan kita tersalurkan lewat dunia maya. Kita memang pernah bertemu dan berkumpul dalam sebuah kelompok, membaur dengan orang lain. Tetapi, percakapan kau dan aku hanya sebatas sapa. Sedikit bercanda. Sedikit bercerita. Lalu kau lebih asyik dengan orang lain. Dan aku lebih asyik membaca buku sendiri.

Aku memang sudah terbiasa menjadi orang yang diabaikan. Orang-orang begitu. Kecuali kamu. Entah apa yang ada di pikiranmu sehingga pada suatu saat kau mengajakku larut dalam kesibukanmu. Saat itulah kau mampu mengeluarkan salah satu sisi humorisku. Kau buat aku berbicara. Kau buat aku berbagi cerita. Tetapi hanya sampai waktu sibukmu.

Perempuan yang Sedang Jatuh Cinta

Perempuan itu bernama Pagi. Dia sedang jatuh cinta.

Di mata pagi, lelaki itu hanyalah Malam. Malam memiliki pesona yang tak pernah dilihat Pagi pada lelaki lain. Malam menjelma dari biasa menjadi istimewa. Malam telah menguasai pikiran Pagi berhari-hari ini.

Setiap pagi datang, Pagi ingin menjadikan Malam sebagai orang pertama yang ia sapa. Pun ketika malam, Pagi ingin Malam sebagai orang terakhir yang berbicara dengannya sebelum ia terlelap. Karena Malam, Pagi mengutarakan rasa rindunya. Dia selalu memanggil sang merpati untuk mengirimkan pesan kepada Malam. Merpati itu selalu datang cepat membawa balasan. Pagi menjadi begitu ceria. Dia menjadikan Malam sebagai alasan di balik setiap rasa bahagia yang dia rasa.

Teh Tebu di Stasiun

Stasiun Bandung di sore hari itu tidak berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Calon penumpang kereta api berlalu-lalang dengan barang bawaannya. Para pedagang asongan pun tak mau ketinggalan berpartisipasi dalam keramaian itu dengan menawarkan snack, minuman, maupun rokok. Keramaian itu dilengkapi dengan suara berisik sirine kereta api yang telah siap memuat lebih banyak penumpang.
         
Di antara beberapa ratus jiwa yang berbagi oksigen di stasiun, aku adalah salah satunya. Aku dan ransel besarku akan menempuh perjalanan ke Yogyakarta untuk mengunjungi Nenek sekaligus mengisi libur kuliah. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mengistirahatkan badanku yang lelah akibat banyaknya kegiatan kuliah yang aku ikuti.